laman

Rabu, 06 Juni 2012

Download data estimasi curah hujan Satelit TRMM

TRMM merupakan singkatan dari Tropical Rainfall Measuring Mission yang merupakan misi antara NASA (National Aeronautics and Space Administration) dan JAXA (Japan Aerospace Exploration Agency) untuk pengukuran curah hujan di wilayah tropis. Satelit TRMM diluncurkan pada tanggal 27 November 1997 pada jam 6:27 pagi waktu Jepang dan dibawa oleh roket H-II di pusat stasiun peluncuran roket milik JAXA (Japan Aerospace Exploration Agency) di Tanegashima-Jepang.
 Satelit TRMM Memantau Bumi
(http://trmm.gsfc.nasa.gov)
TRMM dirancang khusus untuk mengukur curah hujan di daerah tropis dan subtropis, serta memberikan informasi tentang ketinggian atmosfer dimana pemanasan dan pendinginan yang terkait dengan hujan sedang berlangsung. Sebagai satelit yang mengorbit bumi, TRMM memberikan laporan bulanan curah hujan total yang jatuh di suatu daerah.
Ada dua misi yang dimiliki oleh satelit TRMM yakni : 1. Untuk mengukur curah hujan dari antariksa, baik itu distribusi horisontalnya maupun profil vertikalnya dan 2. Untuk mengukur curah hujan sepanjang wilayah tropis dimana merupakan wilayah yang hujannya paling banyak.

Karakteristik TRMM

1.    Berorbit polar dengan inklinasi sebesar 350 terhadap ekuator
2.    Ketinggian orbit 403 km
3.    Resolusi spasial data yang dihasilkan dari 0,25º x 0,25º; 0,5º x 0,5º; 1,0º x 1,0º dan 5,0º x 5,0º
4.    Resolusi temporal data yang dihasilkan dari tiap 3 jam-an sampai bulanan
5.    Jangkauan wilayah pengamatan 50 LU-50 LS dan 180 BT-180 BB

Jangkuan Orbit TRMM
(http://mbojo.wordpress.com)

Sensor Satelit TRMM
1.    PR (Precipitation Radar)
PR memiliki resolusi horizontal di permukaan sekitar 5 km dan lebar sapuan 247 km. Salah satu fitur yang paling penting adalah kemampuan PR dalam menyediakan profil vertikal hujan dan salju dari permukaan hingga ketinggian sekitar 20 km dengan resolusi vertikal setiap 250 m dan sensitivitas sinyal minimum yang mampu dideteksi sensor PR ini lebih kurang 20 dBz atau setara dengan kecepatan curah hujan sekitar 0,7 mm/jam. Sensor PR ini bekerja pada frekuensi 13,8 GHz untuk mengukur distribusi presipitasi secara 3 dimensi dan untuk menentukan kedalaman lapisan presipitasi. Sensor PR mampu mendeteksi ukuran hujan, kecepatan, dan ketinggiannya. Seperti halnya radar cuaca di bumi, PR memancarkan pulsa energi elektromagnetik dan mengukur energi balik yang dipantulkan oleh curah hujan di atmosfer.
2.      TMI (TRMM Microwave Imager)
TMI adalah sensor gelombang mikro pasif yang dirancang untuk memberikan informasi kuantitatif curah hujan. TMI mampu mengukur uap air, kandungan air dalam awan, awan es, tipe hujan dan intensitas curah hujan di atmosfer dengan mengukur berapa menit yang dibutuhkan energi gelombang mikro yang dipancarkan oleh bumi dan atmosfer. Sensor TMI beroperasi pada 5 frekuensi yaitu 10,65; 19,35; 37,0; 85,5 GHz dan 22,235 GHz.
3.    VIRS (Visible Infrared Scanner)
VIRS menggunakan cermin berputar untuk memindai sepanjang trek dari observasi TRMM dan menyapu wilayah dengan lebar 833 km sebagai proses observasi di sepanjang orbitnya. Sensor ini terdiri dari 5 kanal dengan panjang gelombang masing-masing 0,63; 1,6; 3,75, 10,8 dan 12 μm. Sensor VIRS ini terutama digunakan untuk pemantauan liputan awan, jenis awan dan temperatur puncak awan. Resolusi spasial dari data yang dihasilkan oleh sensor VIRS ini adalah 2,2 km.
4.    LIS (Lightning Imaging Sensor)
LIS merupakan suatu alat yang dapat mendeteksi dan mengetahui lokasi petir di sepanjang wilayah tropis. Data yang tercatat meliputi waktu dari peristiwa petir, energi radiasinya (seberapa tingkat kecerahan petir) dan perkiraan lokasi petir. LIS berdiameter sekitar 8 inci dan tingginya 14 inci.
5.    CERES (Clouds and Earth’s Radiant Energy System)
Data dari sensor CERES ini dapat digunakan untuk mempelajari pertukaran energi antara matahari, atmosfer bumi, permukaan dan awan, serta ruang. CERES mengukur energi pada bagian atas atmosfer dan mengestimasi energi di atmosfer serta di permukaan bumi. CERES juga dapat menentukan sifat awan, termasuk jumlah awan, ketinggian, ketebalan, dan ukuran partikel awan.
Sensor Satelit TRMM

Model Satelit TRMM
TRMM tidak hanya menyediakan data curah hujan tetapi yang lebih penting adalah informasi mengenai panas yang dilepaskan ke atmosfer sebagai bagian dari proses yang mengakibatkan hujan. Keseimbangan energi atmosfer global menunjukkan bahwa hanya sekitar seperempat dari energi yang dibutuhkan untuk mendorong sirkulasi atmosfer global berasal dari energi matahari langsung. Tiga perempat lainnya adalah energi yang ditransfer ke atmosfer oleh penguapan air, terutama dari laut. Energi matahari yang melewati atmosfer menuju permukaan laut sebagian besar diserap dan mengalami penguapan. Jumlah panas yang dibutuhkan untuk menguapkan air (merubah air menjadi gas) disebut panas laten penguapan. Disebut laten karena tersembunyi jauh di molekul-molekul uap air.
Panas laten energi yang terkandung dalam awan tidak dapat dilihat atau diukur secara langsung. Namun curah hujan yang merupakan produk dari pelepasan panas laten ini dapat diukur. Sayangnya, masih terdapat ketidakpastian sebesar 50% pada jumlah curah hujan di wilayah tropis. Kecuali jika kita dapat menentukan jumlah curah hujan dan energi yang dilepaskan ketika hujan terjadi. Para ilmuwan mengukur panas laten terkait dengan proses kondensasi dan penguapan pada skala global dengan menggunakan satelit TRMM ini.
Perkiraan panas yang dilepaskan ke atmosfer pada ketinggian yang berbeda berdasarkan pada pengukuran ini dapat digunakan untuk meningkatkan model sirkulasi atmosfer global. Model ini yang kemudian akan memberikan nilai estimasi curah hujan pada satelit TRMM.
TRMM adalah sebuah alat yang mengukur radiasi yang diemisikan oleh zat cair atau yang dihamburkan oleh es di awan. Radiasi ini diterima sebagai sinyal-sinyal yang kemudian sinyal-sinyal ini dapat dikonversi menjadi jumlah curah hujan.
Para ilmuwan mengembangkan model atmosfer cuaca dan sistem iklim untuk mensimulasikan proses nyata yang mengendalikan cuaca dan sistem iklim. Model ini memberikan persamaan matematika yang mewakili hubungan apa-apa yang terjadi dalam sistem atmosfer. Kompleksitas model cuaca/iklim ini memerlukan penggunaan teknologi komputer super canggih.
Model cuaca/iklim yang digunakan saat ini menggabungkan karakteristik darat, laut, dan udara. Model ini disebut "coupled model" yang berguna bagi para ilmuwan untuk memahami proses iklim.
Agar model dapat menghasilkan sebuah perkiraan atau prediksi kondisi atmosfer di masa depan maka dibutuhkan data saat ini. Dengan kata lain, model akan tampil jauh lebih baik jika diberikan tidak hanya dari apa yang terjadi pada mulanya, tetapi apa yang terus terjadi dalam sistem cuaca/iklim yang terus berubah.

Estimasi Curah Hujan oleh Satelit TRMM
Instrumen utama satelit TRMM untuk mengukur curah hujan adalah sensor Presipitation Radar (PR), TRMM Microwave Imager (TMI), dan Visible Infrared Scanner (VIRS). Semua sensor tersebut dapat berfungsi sendiri-sendiri ataupun berkombinasi satu sama lain.
Masing-masing sensor tersebut mengumpulkan data sesuai dengan spesifikasi masing-masing. Data yang terkumpul kemudian diproses oleh satelit TRMM dengan menggunakan model persamaan yang dimilikinya. Seperti halnya suatu persamaan, semua variabel dan konstanta akan diproses sehingga menghasilkan suatu nilai tertentu. Nilai inilah yang menjadi nilai estimasi curah hujan satelit TRMM.

Data estimasi Curah Hujan satelit TRMM



untuk data bulanan, dapat didownload di

Terima Kasih
Semoga bermanfaat

sumber : http://www.dirgantara-lapan.or.id/moklim/edukasitrmm.html

13 komentar:

  1. datanya dibuka pake apa?
    kalo sy sih pake panoply. dsitu sudah ada koordinatnya..

    mksudnya keyword gmn?

    BalasHapus
  2. Kalau download data TMI bagaimana caranya?? ada tutorialnya ga?
    kalau bisa hasilnya dalam format .nc atau raster data

    BalasHapus
  3. kalau data TMI saya sendiri belum pernah download. tapi coba aja explor link di atas. datanya tersedia dalam netcdf kok.

    BalasHapus
  4. untuk membuka datanya pakai software apa bu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa pake matlab dan yang lebih mudah pake GrADS

      Hapus
  5. kalau mau data yang hanya pada satu kabupaten saja, gmana caranya ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gampang saja. Pada saat pengolahan data (misal) menggunakan GrADS, tentukan koordinat lintang bujur yang diinginkan.

      Hapus
  6. assalamualaikum, mau tanya dong mba, itu kok data bulanan yang saya download time set nya masih ngacak ya, tidak sesuai dengan time set yang didownload? mohon bantuannya tks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. walaikumsalam. sy kurang mengerti maksudnya mas. time set yang mana yang masih ngacak?

      Hapus
  7. Assalamualaikum bu, apakah TRMM menyediakan data prakiraan hujan beberapa hari ke depannya?

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...