laman

Minggu, 06 Desember 2015

Perbedaan El Nino dan ENSO

El Nino merupakan suatu penyimpangan kondisi laut yang terjadi di Samudera Pasifik sekitar ekuator. Istilah El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang berarti anak laki-laki kristus karena biasanya datang di bulan Desember saat natal sedang berlangsung. El Nino membawa dampak yang sangat besar bagi kehidupan manusia baik di Indonesia maupun secara global. Dampak yang sangat nyata di Indonesia dapat kita saksikan bersama di tahun 2015 ini mulai dari dampak langsung berupa berkurangnya curah hujan maupun dampak tidak langsungnya berupa kekeringan, kebakaran, hingga berdampak pada kestabilan negara.

Untuk memahami El Nino kita perlu memahami kondisi normal saat El Nino (maupun La Nina) sedang tidak berlangsung. Dalam kondisi normal, keberadaan angin pasat tenggara yang bertiup dari arah yang tetap sepanjang tahun menyebabkan terjadinya arus permukaan yang membawa massa air permukaan ke wilayah Pasifik bagian barat (sekitar Indonesia). Karena adanya daratan Indonesia maupun Australia maka massa air tersebut tertahan dan lama kelamaan terkumpul. Mengingat massa air laut dekat permukaan bersifat hangat maka massa air yang terkumpul tersebut meningkatkan suhu muka laut di Pasifik barat. Pada tahap ini akan terbentuk suatu sirkulasi arus dimana arus permukaan menuju ke arah barat sedangkan arus di lautan dalam menuju ke arah timur. Pergerakan ini diakibatkan oleh massa air yang terkumpul di Pasifik barat akan bergerak turun (downwelling) sehingga arus di pasifik timur akan naik (upwelling). Arus yang naik ini membawa massa air dari lautan dalam yang tentu saja bersifat dingin. Hal inilah yang normal terjadi di Samudera Pasifik dimana suhu muka laut di Pasifik barat (sekitar Indonesia) lebih hangat dibandingkan di Pasifik timur sekitar Pantai Barat Peru (Gambar 1).

Kondisi suhu muka laut sangat erat kaitannya dengan pembentukan awan-awan hujan. Suhu muka laut yang hangat senantiasa beriringan dengan sistem tekanan rendah begitu pun sebaliknya. Adanya perbedaan tekanan udara antara sisi barat dan timur samudera Pasifik akan menimbulkan suatu sirkulasi yang dikenal dengan istilah sirkulasi Walker. Sirkulasi ini menunjukkan bahwa dalam kondisi normal wilayah pasifik barat akan menjadi pusat pembentukan awan-awan konvektif yang membawa hujan (Gambar 1).

Gambar 1. Kondisi normal (Source: W.S. Kessler, NOAA/PMEL dari laman www.seos-project.eu)

Pada kasus El Nino, hal sebaliknya terjadi. Angin pasat tenggara mengalami pelemahan yang bahkan berubah arah menajdi pasat barat daya. Akibatnya suhu muka laut yang lebih hangat akan berpindah ke wilayah samudera Pasifik bagian tengah hingga timur dan wilayah Pasifik barat menjadi lebih dingin. Pusat-pusat pembentukan awan konvektif pun lalu bergeser sehingga Indonesia yang biasa banyak hujan menjadi lebih sedikit. Sebaliknya, wilayah Peru dan sekitarnya yang dalam kondisi normal kondisinya dingin dan kering menjadi lebih hangat dan basah (banyak hujan).

Dampak El Nino di Indonesia sebenarnya tidak sama di setiap wilayah di Indonesia. Indonesia bagian tengah hingga timur lebih cenderung berdampak dibandingkan di Indonesia barat khususnya Sumatera. Dari analisis historis data curah hujan dapat diketahui wilayah mana saja yang berdampak terhadap kejadian El Nino (Gambar 2). 

Gambar 2. Peta korelasi El Nino dan Curah hujan Indonesia (Sriworo, 2008)

Analisis dampak El Nino di Indonesia menunjukkan adanya perbedaan berdasarkan pada periode kejadiannya. El Nino akan sangat berdampak membawa kekeringan saat terjadi di musim kemarau dibandingkan saat di musim hujan. Misalnya di Baubau pada El Nino 1997 tidak terjadi hujan sama sekali selama tiga bulan berturut-turut selama musim kemarau. Sementara itu pada saat musim hujan, sekuat apapun intensitas el nino, pengaruhnya akan kalah dengan kehadiran monsun Asia. Ketika monsun Asia aktif maka akan ada suplai uap air ke wilayah Indonesia. Potensi kejadian hujan akan meningkat walaupun intensitasnya masih lebih sedikit dari biasanya (masih dalam kategori musim kemarau menurut BMKG).

Ada dua cara yang dapat digunakan untuk memprediksi kejadian El Nino. Pertama melalui indeks Nino3.4 yang merupakan anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 atau Pasifik bagian tengah. Kedua melalui Southern Oscillation Index (SOI) yang merupakan perbedaan tekanan antara Tahiti dan Darwin. Berdasarkan intensitas kejadiannya, indeks El Nino ini dikategorikan dalam tiga kelas yaitu El Nino kuat, El Nino sedang, dan El Nino lemah. Semakin tinggi anomali suhu muka laut di Nino3.4 atau semakin rendah perbedaan tekanan antara Tahiti dan Darwin maka El Nino dalam kategori kuat. El Nino kuat tentu akan lebih berdampak dibandingkan El Nino sedang maupun lemah (Gambar 3).

Gambar 3. Contoh Prakiraan Indeks Nino3.4 (kiri) dan SOI (kanan) [source : bmkg.go.id]

El Nino biasa juga disebut sebagai ENSO padahal dua peristiwa ini adalah peristiwa yang berbeda. ENSO atau El Nino Southern Oscillation terdiri dari dua fenomena yakni fenomena El Nino dan Southern Oscillation. El Nino sendiri berarti komponen lautannya sedangkan Southern Oscillation berarti komponen atmosfernya. Oleh karenanya, El Nino menggunakan indeks Nino3.4 yang unsur utamanya suhu muka laut sedangkan ENSO menggunakan SOI yang unsur utamanya adalah tekanan udara. Jadi, ketika kita berbicara El Nino, kita hanya membahas seputar lautannya. Namun ketika kita berbicara ENSO maka kita berbicara masalah lautan dan atmosfer. 

Sebagai penutup, ada film bagus nih tentang El Nino disini :)

Rabu, 11 November 2015

Pengertian Arus Laut

Perbedaan penerimaan panas matahari di muka bumi menyebabkan timbulnya ketidakseimbangan di dalam lautan. Wilayah tropis yang menerima lebih banyak radiasi memilki suhu muka laut yang lebih hangat dibandingkan dengan wilayah di lintang menengah dan tinggi. Variasi dari suhu ditambah dengan tekanan dan kandungan garam dalam air mengontrol besaran densitas. Akibat dari perbedaan sebaran densitas antar lautan maka muncul suatu pergerakan massa air baik secara vertikal maupun horizontal sehingga laut menuju keseimbangan. Gerakan ini dikenal dengan istilah arus laut.

Sama halnya seperti angin, arus merupakan suatu komponen vektor yang memiliki besaran arah dan kecepatan. Pergerakan arus laut dipengaruhi oleh banyak faktor yang beberapa di antaranya akibat dari tiupan angin, perbedaan tekanan air, perbedaan suhu, perbedaan densitas, gaya coriolis, gravitasi, pasang surut, topografi dasar laut, gaya gesekan, dan pengaruh gelombang pecah. Perbedaan mesin pembangkit arus ini mengakibatkan arus terkategori dalam beberapa jenis di antaranya:
(i)    Arus ekman : Arus yang dipengaruhi oleh angin yang efeknya secara vertikal
(ii)   Arus termohaline : Arus yang dipengaruhi oleh densitas dan gravitasi
(iii)  Arus pasut : Arus yang dipengaruhi oleh pasang surut
(iv)  Arus geostropik : Arus yang dipengaruhi oleh perbedaan tekanan mendatar dan gaya coriolis
(v)   Arus akibat angin : Arus yang dipengaruhi oleh pola pergerakan angin dan terjadi pada lapisan permukaan

Arah dan kecepatan angin tidak hanya membangkitkan gelombang seperti yang biasa tampak di permukaan laut. Tiupan angin juga menyebabkan bergeraknya massa air laut secara horizontal di beberapa ratus meter dari lapisan permukaan yang biasa disebut arus permukaan. Arah dan kecepatan arus ini sangat tergantung pada arah dan kecepatan angin namun arah arus tidak searah dengan kemana arah angin bertiup. Arus akan dibelokkan pada umumnya sebesar 90 derajat dari arah datangnya angin. Pembelokkan ini akibat dari bumi yang berputar sehingga menimbulkan sebuh gaya yang disebut dengan gaya coriolis. Di belahan bumi utara, arus dibelokkan ke kanan sedangkan di belahan bumi selatan ke kiri.

Gambar 1. Arus Dibelokkan ke Kanan di BBU (a) dan Dibelokkan ke Kiri di BBS (b) [source : en.wikipedia.org]

Sekitar 10% dari air laut dunia bergerak secara horizontal di lapisan permukaan (0-400 m). Selebihnya (90%), air laut bergerak di lapisan dalam. Arus dalam ini tidak dipengaruhi oleh pola sebaran angin melainkan oleh perbedaan densitas. Arus jenis ini membawa massa air dalam jumlah besar dari daerah ekuator ke daerah kutub dan begitupun sebaliknya hingga membentuk suatu sirkulasi yang tetap. Arus ini dikenal dengan sebutan Arus Termohalin atau dengan nama lain Arus Perputaran Sabuk Dunia.

Gambar 2. Sirkulasi Arus Termohalin [source: www.ces.fau.edu]

Arus termohalin seperti yang ditunjukkan oleh gambar 2 di atas melewati wilayah Indonesia dan disebut sebagai ARLINDO singkatan dari Arus Lintas Indonesia. Arus ini bersifat hangat yang mengalir dari Samudera Pasifik utara Papua masuk melalui Selat Makasar dan menuju Selat Lombok dan Selai Ombai dekat Pulau Timor. Selain itu juga mengalir lewat Selat Lifamatola antara Maluku Utara dan Sulawesi Tengah lalu menuju Laut Banda dan kemudian mengalir melewati Selat Ombai.

Gerakan massa air tidak hanya terjadi secara horizontal namun ada juga yang vertikal. Gerakan massa air dari lapisan bawah ke lapisan di atasnya disebut upwelling sedangkan dari lapisan atas ke lapisan bawah disebut downwelling. Arah tiupan angin secara tidak langsung dapat mempengaruhi arus ini. Misalnya saja ketika arus permukaan bergerak menjauhi pantai maka volume air di daerah sekitar bibir pantai akan berkurang sehingga untuk menyeimbangkannya, massa air dari bawahnya akan naik dan fenomena upwelling pun terjadi. Daerah upwelling ini akan kaya dengan nutrien-nutrien termasuk plankton-plankton yang dibawa naik oleh arus dari lapisan bawah lautan ke lapisan permukaan di atasnya. Oleh karenanya, upwelling selalu identik dengan ikan yang banyak.

Sementara itu fenomena downwelling berdampak berbeda dengan upwelling. Pada wilayah arus turun tidak terdapat banyak ikan di lapisan permukaan karena nutrient di bawah turun ke lapisan dalam. Arus turun ini terjadi ketika ada penumpukan massa air di suatu wilayah dan massa air ini tidak dapat lagi bergerak horizontal maka ia akan bergerak turun. Selain itu, gerakan turun massa air juga dapat diakibatkan karena adanya garis pantai yang menghalangi pergerakan arus di permukaan.

Sabtu, 12 September 2015

Analisis Kesesuaian Iklim Tanaman Jagung dengan Proyeksi Iklim menggunakan Skenario RCP4.5 di Sulawesi Selatan

Kesesuaian Iklim memang sudah menjadi salah satu produk rutin BMKG. Saya pada penelitian ini mencoba menganalisis kesesuain iklim tanaman jagung di masa yang akan datang terkait dengan adanya perubahan iklim. Ini adalah abstrak skripsi saya saat mengikuti Diploma IV Jurusan Klimatologi di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jakarta. Dari judulnya sepertinya pertanian banget yaa.. Hehe.. Yang mau nanya-nanya, silakan surel saja.


Sabtu, 15 Agustus 2015

Sulawesi Tenggara Waspada El Nino

[sumber : www.el-nino.com]
Pada tahun 2015 ini dunia kembali dilanda El Nino. El Nino ini teramati terus menguat sejak April 2015 dan diprediksi akan menjadi El Nino kategori kuat pada akhir tahun. Beberapa daerah di Indonesia mulai terkena dampaknya. BMKG pada bulan Juli lalu menyatakan bahwa Jawa, Sulawesi Selatan, Lampung, Bali, NTB, dan NTT telah mengalami hari tanpa hujan berturut-turut yang sangat panjang. Wilayah-wilayah tersebut sudah mengalami kekeringan sejak Mei 2015. Kekeringan ini diprediksi masih akan berlangsung dimana awal musim hujan 2016 di beberapa daerah tersebut akan mengalami kemunduran dampak dari kemunculan El Nino. Menyikapi hal ini maka timbul pertanyaan di benak kita, “bagaimana dengan wilayah Sulawesi Tenggara?”

Dari pantauan BMKG unit Sulawesi Tenggara di kota Kendari, Bau-bau, Pomalaa, dan Ranomeeto, tercatat masih adanya hujan yang turun hingga bulan Juli kemarin. Kondisi hari tanpa hujan sempat terjadi selama kurang lebih dua minggu pada awal bulan Juli. Memasuki pertengahan hingga akhir Juli, hujan tercatat beberapa kali terjadi dengan intensitas rendah. Hujan yang turun ini mungkin tampak seperti angin segar bagi kita bahwa fenomena El Nino tidak berdampak di Sulawesi Tenggara. Lalu apakah hal tersebut benar?

Dari kajian analisis sebaran dampak , wilayah Indonesia bagian timur sangat rentan terkena dampak El Nino. Tentu saja itu termasuk wilayah Sulawesi Tenggara. Ditambah lagi dengan posisi Sulawesi Tenggara yang berbatasan langsung dengan Laut Banda. Kajian para pakar membuktihkan bahwa Laut Banda yang luas dan dekat dengan Samudera Pasifik memiliki suhu muka laut yang lebih rendah saat kejadian El Nino dibandingkan saat kondisi normal.

El Nino merupakan suatu penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di Samudera Pasifik sekitar ekuator khususnya di bagian tengah dan timur (sekitar Pantai Barat Peru). Dikatakan sebagai penyimpangan karena kondisi El Nino ini berlawanan dengan kondisi normal. Seharusnya permukaan laut yang hangat adalah di bagian barat (wilayah perairan Indonesia) dan yang dingin adalah di wilayah tengah dan timur Samudera Pasifik. Namun El Nino membalikkan keadaan. Akibat penyimpangan laut ini maka terjadi penyimpangan pada sistem atmosfer. Pusat pembentukan awan bergeser ke wilayah timur Pasifik. Jika pada kondisi normal hujan seharusnya turun di wilayah Pasifik barat akan tetapi El Nino memindahkannya ke Pasifik timur (Amerika Tengah dan Selatan).

Laut merupakan mesin penyuplai uap air terbesar. Laut yang hangat akan melepaskan lebih banyak uap air di udara. Uap air ini sangat bermanfaat untuk pembentukan awan-awan hujan. Pada kondisi El Nino, suhu muka laut di perairan Indonesia khususnya Indonesia bagian timur cenderung lebih dingin. Akibatnya, tingkat penguapan di laut Indonesia berkurang. Namun hal sebaliknya terjadi di wilayah tengah dan timur Pasifik (sekitar Pantai Barat Peru). Suhu muka laut disana lebih hangat sehingga pembentukan awan lebih banyak. Oleh sebab itu dikatakan bahwa El Nino membawa dampak yang berbeda di sisi barat dan sisi timur Samudera Pasifik. Di sisi barat mencakup Indonesia, Australia, hingga India, El Nino berdampak pada meningkatnya resiko kekeringan namun bagi sisi timur mencakup Amerika Tengah dan Selatan, El Nino pada umumnya meningkatkan resiko banjir.

Untuk mengantisipasi dampak El Nino di Sulawesi Tenggara, kita perlu mempelajari sejarah kejadian dan dampaknya terhadap cuaca dan iklim di masa lalu. El Nino tercatat telah terjadi sebanyak delapan kasus dalam 20 tahun terakhir dimana El Nino kategori kuat baru terjadi satu kali yakni pada tahun 1997-1998. Dengan memperhatikan data historis curah hujan Sulawesi Tenggara pada tahun-tahun El Nino dapat diketahui bahwa beberapa kasus El Nino berdampak pada pengurangan curah hujan dan beberapa tidak berdampak. Perbedaan dampak El Nino ini dipengaruhi oleh intensitas, durasi kejadian, dan kapan terjadinya.  Pada kasus El Nino kuat, curah hujan diketahui mengalami defisit yang sangat signifikan. Sementara itu pada kasus El Nino lemah-sedang, secara umum berdampak defisit curah hujan namun tidak dipungkiri beberapa kejadian malah menunjukkan peningkatan curah hujan. Peningkatan ini ternyata terjadi selama musim penghujan. Hal ini menunjukkan bahwa efek El Nino akan lebih merusak saat datang di musim kemarau sedangkan saat dating di musim penghujan efeknya melemah.

Saat ini wilayah Sulawesi Tenggara secara umum telah memasuki musim kemarau. Kota Kendari yang normalnya masuk musim kemarau di bulan Juli dasarian II (tanggal 11 – 20), pada tahun ini maju atau lebih cepat satu dasarian yakni menjadi Juli dasarian I (tanggal 1 – 10). Curah hujan bulan Juli di kota Kendari mengalami defisit 76 % dari rata-ratanya. Pengurangan yang lebih parah terjadi di Pomalaa sebesar 83 % dan di Bau-bau defisit 93 % dari rata-ratanya selama 29 tahun. Dari informasi ini kita dapat mengetahui bahwa El Nino telah berdampak signifikan di beberapa tempat di Sulawesi Tenggara.

El Nino adalah suatu fenomena yang tidak memilki pola yang tetap pada setiap kemunculannya dan juga tidak muncul secara tiba-tiba. El Nino baru dapat diprediksi kehadirannya dalam beberapa bulan ke depan saja. Dengan mengamati suhu muka laut di sekitar wilayah Tahiti dan Darwin Australia, kita dapat mengetahui bahwa El Nino sedang dan akan terjadi. BMKG dan institusi dunia lainnya memprediksikan El Nino 2015 akan berkembang menjadi El Nino kuat mulai bulan Agustus. International Research Institute (IRI) Amerika Serikat berani memastikan peluang kejadian El Nino mencapai 100 %. Berdasarkan intensitasnya maka El Nino level kuat ini perlu diwaspadai. Besarnya intensitas El Nino yang datang di musim kemarau sebanding dengan kerusakan yang dapat ditimbulkannya.

Prediksi dampak yang mungkin terjadi pada El Nino kali ini dapat kita pelajari dari dampak yang terjadi pada tahun 1997/1998. Kejadiannya hampir serupa dengan kasus kali ini dimana El Nino berada pada level kuat yang puncaknya mulai aktif pada bulan Agustus dan terus berkembang hingga Februari. Pada waktu itu, curah hujan di wilayah Sulawesi Tenggara secara umum tercatat mengalami pengurangan yang signifikan hingga 100 % atau tidak ada hujan sama sekali dalam satu bulan. Kondisi kering ini terjadi sepanjang musim kemarau. Di Bau-bau, defisit curah hujan sudah terjadi sejak musim hujan bulan Mei 1997 yang saat itu kondisi El Nino masih dalam level lemah. Defisit ini terus berlangsung hingga puncaknya pada bulan Agustus-September-Oktober tidak tercatat hujan sama sekali selama 3 bulan penuh. Kemudian saat memasuki musim hujan bulan Desember-Januari-Februari saat El Nino masih berada pada puncaknya El Nino kuat, pengaruhnya tidak begitu besar. Hujan tercatat masih terjadi walaupun akumulasi bulanannya di bawah normal namun intensitasnya cukup besar.

Dampak serupa ditunjukkan di wilayah lain di Sulawesi Tenggara seperti Kabupaten Raha, Buton, Konawe, dan Bombana. Banyak wilayah yang mengalami kondisi kering selama tiga bulan berturut-turut pada puncak musim kemaraunya di bulan Agustus hingga Oktober. Ketika memasuki musim penghujan, beberapa wilayah menunjukkan adanya hujan yang tercatat walaupun nilainya berada di bawah normal. Bahkan beberapa ada yang menunjukkan tidak berdampak sama sekali. Konawe Selatan misalnya, pada bulan Januari 1998 saat El Nino masih dalam intensitas kuat, curah hujan yang terukur diketahui berada dalam kondisi di atas normal.

Belajar dari masa lalu maka kita sebagai masyarakat Sulawesi Tenggara perlu mewaspadai kemungkinan kerusakan pada El Nino 1997/1998 terjadi lagi pada El Nino tahun ini. Kita harus mewaspadai kekeringan yang mungkin dapat terjadi selama musim kemarau ini terutama di bulan Agustus, September, dan Oktober. Kondisi kering dalam waktu yang panjang dapat membawa kerugian di banyak sektor kehidupan mulai dari tingkat satuan rumah tangga hingga kestabilan ekonomi suatu negara.

Untuk mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh El Nino maka kita perlu melakukan upaya-upaya penanggulangan mulai dari sekarang. Pemerintah harus lebih siap dan tanggap pada kemungkinan bencana lanjutan akibat kemunculan El Nino. Pemerintah juga dapat memaksimalkan beberapa sektor yang berdampak positif pada kemunculan El Nino salah satunya sektor perikanan dengan meningkatnya potensi ikan di wilayah perairan kita. Di tingkat masyarakat, kita dapat melakukan penghematan penggunaan air. Kita dapat membuat daerah resapan air dengan harapan ketika hujan turun sesekali maka kita dapat memanfaatkannya dengan lebih maksimal. Untuk menjaga kesehatan, kita harus mengonsumsi air lebih banyak dari biasanya karena kondisi kering yang dibawa oleh El Nino menyebabkan tingkat dehidrasi meningkat. 

*Tulisan ini telah dimuat di koran Kendari Pos pada kolom Opini tanggal 11 Agustus 2015 dan masih dapat diakses di situs kendari pos disini.

Kamis, 12 Maret 2015

Analisis Curah Hujan Kota Kendari

Curah hujan diartikan sebagai ketinggian air hujan yang terkumpul dalam penakar hujan dengan asumsi tidak ada yang meresap, menguap maupun mengalir. Curah hujan diukur setiap hari dan dilaporkan sebagai ketinggian air dalam satuan milimeter. Data curah hujan mempunyai banyak manfaat seperti untuk perencanaan, penelitian, analisis kejadian, klaim asuransi, dan lain sebagainya.  

Gambar di bawah ini merupakan grafik normal curah hujan bulanan (Gambar 1) dan dasarian (Gambar 2) di kota Kendari. Periode standar BMKG untuk normal curah hujan dimulai dari tahun 1981-2010 (30 tahun) namun karena keterbatasan data pengamatan di kota Kendari maka saya hanya menggunakan rata-rata selama 13 tahun dari 1998-2010. 

Gambar 1. Normal Curah Hujan Bulanan Kota Kendari [sumber data: Stasiun Meteorologi Maritim Kendari]
Gambar 2. Normal Curah Hujan Dasarian Kota Kendari [sumber data: Stasiun Meteorologi Maritim Kendari]

Gambar 1 menunjukkan curah hujan wilayah Kendari dari Stasiun Meteorologi Maritim Kendari berpola monsunal yang ditandai dengan bentuk berpola seperti huruf V. Tampak jelas bahwa Kendari masuk dalam kategori wilayah Zona Musim (ZoM) dimana ada perbedaan yang jelas antara musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau di Kendari berperiode pendek yakni hanya selama empat bulan atau selama 13 dasarian dimulai dari Juli II hingga November II. 

Dari grafik bulanan dapat dilihat bahwa puncak musim hujan berada di bulan Juni dan Maret dengan nilai curah hujan yang tidak jauh berbeda dengan musim hujan pada bulan lainnya. Grafik dasarian menunjukkan puncak musim hujan berada di dasarian Mei I, Maret I, Juni I, dan Juni II. Sementara itu, puncak musim kemarau dari grafik bulanan berada di bulan September atau secara lebih spresifik berada pada dasarian September II. Hal menarik pada musim hujan di Kendari adalah periode musim hujan yang panjang dengan nilai curah hujan yang variabilitasnnya tidak berbeda secara signifikan. Rata-rata curah hujan di musim hujan berkisar 166 mm – 242 mm. Hal ini dapat menunjukkan bahwa hujan terbagi merata selama musim hujan di Kendari.

Dari penjabaran di atas maka masa peralihan atau masa pergantian dari musim ke musim dapat diidentifikasi. Grafik dasarian menunjukkan masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau berada di bulan Juni dan Juli. Curah hujan yang tercatat pada masa peralihan ini tergolong tinggi. 


Minggu, 08 Februari 2015

Cara Menentukan Jenis Awan pada Citra Satelit


Satelit Cuaca merupakan salah satu perangkat canggih yang digunakan untuk mendeteteksi cuaca. Gambar citra satelit sama halnya seperti gambar sebuah poto yang dipotret dari angkasa. Keunggulan satelit cuaca adalah dapat menampilkan kondisi perawanan dalam wilayah yang luas dan terkini. Namun demikian ada kesulitan dalam menentukan jenis awan di suatu lokasi dari citra tersebut karena warna yang hampir serupa dan tidak ada bentuk pastinya. 

Citra satelit di atas dihasilkan dari satelit MTSAT kanal Visibel. Kanal Visibel ini hanya menampilkan potret penampakan awan sehingga hanya dapat menampilkan citra pada pagi hingga sore hari saat ada penyinaran matahari. Berikut analisis untuk menentukan jenis awan pada gambar di atas:


  1. Daerah A : Cumulusnimbus (Cb)
    Dari citra di atas tampak awan-awan tersebut berwarna sangat putih yang menunjukkan bahwa awan Cb tersebut telah mencapai ketinggian awan-awan tinggi. Juga terlihat adanya awan Cirrus di sekitar puncak awan Cb tersebut. Bentuknya yang padat pun menunjukan bahwa awan tersebut berukuran besar dan tebal.
  2. Daerah B : Cirrus (Ci)
    Pada citra di atas tampak awan-awan tersebut bentuknya seragam, luas, berwarna abu-abu sedikit gelap, dan seperti lembaran-lembaran berserabut. Sebagian tampak tak berbentuk dengan ujung yang tidak jelas dan menyebar ke daerah yang luas.
  3. Daerah C : Cumulus (Cu)
    Pada citra di atas tampak awan-awan tersebut berwarna putih terang dan bentuknya tidak seragam. Berbeda dengan Cb dimana terlihat awan Ci di puncaknya, awan Cu ini belum terlihat adanya awan Ci di atasnya. 
  4. Daerah D : Stratocumulus (Sc)
    Pada citra di atas terlihat awan-awan tersebut bentuknya tidak teratur, tidak seragam dengan warna abu-abu terang.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...