laman

Rabu, 11 November 2015

Pengertian Arus Laut

Perbedaan penerimaan panas matahari di muka bumi menyebabkan timbulnya ketidakseimbangan di dalam lautan. Wilayah tropis yang menerima lebih banyak radiasi memilki suhu muka laut yang lebih hangat dibandingkan dengan wilayah di lintang menengah dan tinggi. Variasi dari suhu ditambah dengan tekanan dan kandungan garam dalam air mengontrol besaran densitas. Akibat dari perbedaan sebaran densitas antar lautan maka muncul suatu pergerakan massa air baik secara vertikal maupun horizontal sehingga laut menuju keseimbangan. Gerakan ini dikenal dengan istilah arus laut.

Sama halnya seperti angin, arus merupakan suatu komponen vektor yang memiliki besaran arah dan kecepatan. Pergerakan arus laut dipengaruhi oleh banyak faktor yang beberapa di antaranya akibat dari tiupan angin, perbedaan tekanan air, perbedaan suhu, perbedaan densitas, gaya coriolis, gravitasi, pasang surut, topografi dasar laut, gaya gesekan, dan pengaruh gelombang pecah. Perbedaan mesin pembangkit arus ini mengakibatkan arus terkategori dalam beberapa jenis di antaranya:
(i)    Arus ekman : Arus yang dipengaruhi oleh angin yang efeknya secara vertikal
(ii)   Arus termohaline : Arus yang dipengaruhi oleh densitas dan gravitasi
(iii)  Arus pasut : Arus yang dipengaruhi oleh pasang surut
(iv)  Arus geostropik : Arus yang dipengaruhi oleh perbedaan tekanan mendatar dan gaya coriolis
(v)   Arus akibat angin : Arus yang dipengaruhi oleh pola pergerakan angin dan terjadi pada lapisan permukaan

Arah dan kecepatan angin tidak hanya membangkitkan gelombang seperti yang biasa tampak di permukaan laut. Tiupan angin juga menyebabkan bergeraknya massa air laut secara horizontal di beberapa ratus meter dari lapisan permukaan yang biasa disebut arus permukaan. Arah dan kecepatan arus ini sangat tergantung pada arah dan kecepatan angin namun arah arus tidak searah dengan kemana arah angin bertiup. Arus akan dibelokkan pada umumnya sebesar 90 derajat dari arah datangnya angin. Pembelokkan ini akibat dari bumi yang berputar sehingga menimbulkan sebuh gaya yang disebut dengan gaya coriolis. Di belahan bumi utara, arus dibelokkan ke kanan sedangkan di belahan bumi selatan ke kiri.

Gambar 1. Arus Dibelokkan ke Kanan di BBU (a) dan Dibelokkan ke Kiri di BBS (b) [source : en.wikipedia.org]

Sekitar 10% dari air laut dunia bergerak secara horizontal di lapisan permukaan (0-400 m). Selebihnya (90%), air laut bergerak di lapisan dalam. Arus dalam ini tidak dipengaruhi oleh pola sebaran angin melainkan oleh perbedaan densitas. Arus jenis ini membawa massa air dalam jumlah besar dari daerah ekuator ke daerah kutub dan begitupun sebaliknya hingga membentuk suatu sirkulasi yang tetap. Arus ini dikenal dengan sebutan Arus Termohalin atau dengan nama lain Arus Perputaran Sabuk Dunia.

Gambar 2. Sirkulasi Arus Termohalin [source: www.ces.fau.edu]

Arus termohalin seperti yang ditunjukkan oleh gambar 2 di atas melewati wilayah Indonesia dan disebut sebagai ARLINDO singkatan dari Arus Lintas Indonesia. Arus ini bersifat hangat yang mengalir dari Samudera Pasifik utara Papua masuk melalui Selat Makasar dan menuju Selat Lombok dan Selai Ombai dekat Pulau Timor. Selain itu juga mengalir lewat Selat Lifamatola antara Maluku Utara dan Sulawesi Tengah lalu menuju Laut Banda dan kemudian mengalir melewati Selat Ombai.

Gerakan massa air tidak hanya terjadi secara horizontal namun ada juga yang vertikal. Gerakan massa air dari lapisan bawah ke lapisan di atasnya disebut upwelling sedangkan dari lapisan atas ke lapisan bawah disebut downwelling. Arah tiupan angin secara tidak langsung dapat mempengaruhi arus ini. Misalnya saja ketika arus permukaan bergerak menjauhi pantai maka volume air di daerah sekitar bibir pantai akan berkurang sehingga untuk menyeimbangkannya, massa air dari bawahnya akan naik dan fenomena upwelling pun terjadi. Daerah upwelling ini akan kaya dengan nutrien-nutrien termasuk plankton-plankton yang dibawa naik oleh arus dari lapisan bawah lautan ke lapisan permukaan di atasnya. Oleh karenanya, upwelling selalu identik dengan ikan yang banyak.

Sementara itu fenomena downwelling berdampak berbeda dengan upwelling. Pada wilayah arus turun tidak terdapat banyak ikan di lapisan permukaan karena nutrient di bawah turun ke lapisan dalam. Arus turun ini terjadi ketika ada penumpukan massa air di suatu wilayah dan massa air ini tidak dapat lagi bergerak horizontal maka ia akan bergerak turun. Selain itu, gerakan turun massa air juga dapat diakibatkan karena adanya garis pantai yang menghalangi pergerakan arus di permukaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...