laman

Selasa, 06 Juni 2017

Tinjauan Klimatologis Kejadian Hujan Lebat yang Berdampak Bencana di Sulawesi Tenggara pada Dasarian II Mei 2017

Pada bulan Mei 2017 banyak wilayah di Sulawesi Tenggara diguyur hujan terus menerus. Kondisi ini mengakibatkan bencana alam yang sangat besar seperti banjir, jembatan penyebrangan ambruk, tanah longsor, rumah warga rusak terendam banjir, serta sawah yang gagal panen. 

Terlepas dari aspek-aspek non-klimatologis, kami mencoba menganalisis pemicu utama kejadian banjir ini dari aspek klimatologisnya, yakni dari curah hujannya. Tinjauan klimatologis akan menunjukkan pemicu utama hujan lebat tersebut, karakteristik dari hujan lebat tersebut (apakah ‘normal’ atau ‘tidak normal’), dan seberapa ekstrimnya hujan lebat tersebut sehingga dapat menyebabkan banjir. Analisis klimatologis dilakukan dalam periode dasarian yakni pada saat kejadian hujan lebat di dasarian II bulan Mei 2017.


Dari analisis dinamika atmosfer dapat disimpulkan bahwa kondisi atmosfer di wilayah Sulawesi Tenggara pada bulan Mei dasarian ke-2 (tanggal 11 – 20 Mei) tahun 2017 sangat mendukung terjadinya hujan lebat. Kondisi Suhu Muka Laut yang hangat, adanya konvergesi di atas wilayah Sulawesi Tenggara, tekanan udara permukaan laut yang rendah di sekitar wilayah Sulawesi Tenggara, kandungan air mampu curah yang melimpah, dan daerah tutupan awan yang cenderung lebih tebal dari normalnya memicu terbentuknya awan-awan konvektif serta awan-awan stratus yang tebal dan meluas di wilayah Sulawesi Tenggara. Keberadaan awan-awan hujan ini dapat dilihat jelas melalui citra satelit Himawari.


Berikut salah satu gambar dalam analisis dinamika atmosfer.
Arah dan kecepatan angin rata-rata (streamline) lapisan 850 mb pada dasarian II Mei 2017

Dari analisis curah hujan dapat disimpulkan bahwa hujan lebat pada bulan Mei dasarian ke-2 tahun 2017 di banyak wilayah di Sulawesi Tenggara yakni di wilayah Kota Kendari, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Konawe Kepulauan, dan Buton Utara secara klimatologis merupakan kejadian sangat ekstrim. Curah hujan yang terukur jauh melewati curah hujan normalnya dan juga melewati ambang batas ekstrimnya (persentil 95%).


Grafik Perbandingan Akumulasi Curah Hujan (mm) periode Mei II 2017 (biru) terhadap normalnya (hijau) dan ambang batas ekstrimnya (merah)


Oleh sebab itu maka dapat disimpulkan bahwa kejadian hujan ekstrim ini merupakan salah satu pemicu bencana alam (banjir, tanah longsor, jalan rusak dsb) yang terjadi di banyak wilayah di Sulawesi Tenggara pada pertengah bulan Mei 2017.

Pembuat laporan :
1. Siti Risnayah 
2. Ayudya Safitri 3. Ekawati Natalia Mulyadi 4. Adlian Afa Annie

Artikel lengkapnya dapat diunduh disini atau dapat melalui surel ke saya di sitirisnayah@gmail.com.



Rabu, 25 Januari 2017

Identifikasi Potensi Hujan Lebat-Ekstrim menggunakan Reflektivitas Maksimum pada CMAX

Kendari memiliki alat pengamatan cuaca canggih berupa radar cuaca yang terletak di Stasiun Klimatologi Ranomeeto, Konawe Selatan. Alat ini sangat bermanfaat dalam pengamatan cuaca real time untuk mendeteksi potensi cuaca buruk hingga radius 250 km. Radar cuaca bekerja dengan cara menembakkan gelombang elektromagnetik dan menganalisis gelombang kembalinya ketika mengenai target berupa awan dan uap air di atmosfer. Selagi menembakkan gelombang, radar cuaca juga berputar 360 derajat dan bergerak naik turun sehingga dapat memperoleh data dalam cakupan yang lebih luas. Gelombang balik yang diterima radar akan diproses sehingga diketahui posisi uap airnya, intensitasnya, arah gerakannya (menjauh atau mendekati radar), jenis partikel uap airnya dan masih banyak lagi. Informasi yang diperoleh tersebut akan ditampilkan dalam bentuk display sehingga seorang prakirawan dapat menganalisisnya. Pada display radar cuaca, terdapat banyak produk-produk yang tersedia untuk membantu dalam proses analisis.

Berikut saya sharing paper saya yang dipublikasikan pada Prosiding Workshop Operasional Radar Cuaca Vol: II - Januari 2016 ISSN 2502-8898. Saya sadar paper ini sangat sederhana namun saya sangat berharap paper ini dapat bermanfaat dan dapat memicu rekan-rekan untuk ikut melakukan penelitian mengenai radar cuaca khususnya di Kota Kendari.

*yang mau nanya-nanya atau ngajakin buat paper bareng, surel saja nah :)



Sabtu, 21 Januari 2017

Curah Hujan Ekstrim di Kota Kendari


Dari 6575 data curah hujan harian periode 1998 – 2015 yang tersedia di Stasiun Meteorologi Maritim Kendari diurut berdasarkan intensitasnya kemudian dieliminasi kejadian yang memiliki intensitas curah hujan yang sama sehingga tersisa hanya 490 data saja. Salah satu cara yang sangat sederhana untuk menentukan ambang batas ekstrim tertinggi dari data tersebut adalah dengan mengambil 5% dari 490 data tersebut sehingga menghasilkan 25 peringkat curah hujan tertinggi.

Hasil yang diperoleh dapat menjadi batasan maupun patokan untuk mendefiniskan hujan ekstrim di kota kendari yaitu sebagai berikut :
  1. Suatu kasus hujan di Kota Kendari dapat dikategorikan sebagai ekstrim bila intensitasnya > 82 mm.
  2. Setengah dari kejadian curah hujan tertinggi merupakan hujan dengan intensitas sangat lebat dan setengahnya lagi merupakan hujan lebat.
  3. Kejadian hujan lebat dan sangat lebat umumnya terjadi di bulan Juli dan Juni dimana bulan tersebut merupakan masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.
  4. Kejadian hujan lebat dan sangat lebat umumnya terjadi di tahun 2013.

Minggu, 05 Juni 2016

Analisis Dryspell Kendari

Dryspell dapat diartikan sebagai masa kering atau hari tanpa hujan berturut-turut. Analisis peluang kejadian dryspell ini dapat digunakan untuk analisis potensi kekeringan suatu wilayah. Dari gambar di bawah dapat diketahui bahwa potensi kekeringan terbesar di Kendari terjadi di bulan September dengan peluang kejadian sebesar 59 %. Sementara itu peluang kekeringan terendah dengan lama masa kering 5 hari terjadi di bulan Februari dengan persentase 41 %. 

Peluang terjadinya masa kering selama 5 hari umumnya sangat besar di sepanjang tahun. Namun peluang besar terjadinya masa kering dari 10 hingga 20 hari hanya terdapat di musim kemarau terutama di bulan September. Menariknya adalah peluang tertinggi masa kering selama 20 hari hanya sebesar 59 % yang berarti bahwa potensi kekeringan di musim kemarau di kota Kendari masih terbilang sedang (mendekati 50%). Hal ini diperkuat dengan panjang musim kemarau di kota Kendari yang hanya kurang lebih 4 bulan saja.





Minggu, 22 Mei 2016

Dampak El Nino terhadap Musim di Sultra

Frekuensi Anomali Curah Hujan terhadap Normal

El Nino diketahui membawa dampak mengurangi curah hujan di banyak wilayah di Indonesia khususnya di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur. Sulawesi Tenggara yang berbatasan dengan Laut Banda sangat signifikan terpengaruh oleh kejadian El Nino. Curah hujan pada tahun El Nino jika dibandingkan dengan kondisi normal menunjukkan bahwa El Nino secara umum mereduksi curah hujan di Sulawesi Tenggara. Namun ternyata dampak El Nino kurang signifikan saat El Nino tersebut terjadi di musim hujan. Gambar di atas menunjukkan bahwa secara umum El Nino di Musim Kemarau lebih berdampak mengurangi curah hujan dibandingkan saat terjadi di Musim Hujan. Hal ini disebabkan aktifnya Monsun Asia sehingga sekuat apapun intensitas El Nino tersebut akan kalah oleh kehadiran Monsun Asia. Monsun Asia memberikan suplai uap air yang cukup untuk pembentukan awan-awan hujan di Sulawesi Tenggara.

Dampak El Nino yang sangat signifikan di musim kemarau ini perlu diwaspadai mengingat sifat musim kemarau yang kering jika diperkuat dengan kejadian El Nino maka potensi keringnya menjadi semakin besar.

Sabtu, 07 Mei 2016

BMKG Maritim Kendari gelar Sekolah Lapang Iklim Nelayan

Sekolah Lapang Iklim (SLI) Nelayan pertama di Indonesia diadakan oleh Stasiun Meteorologi Maritim Kendari. Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Plaza Inn Kendari pada tanggal 2 – 5 Mei 2016. Kegiatan yang dibuka oleh Bapak Drs. Rivai Marulak selaku Kepala Balai Besar Wilayah IV Makassar ini dihadiri oleh para Kepala UPT BMKG Sulawesi Tenggara, Kepala DKP, Kepala BP4K, Kepala PPS dari Kota Kendari dan tim pendamping dari BMKG pusat dan Staklim Negare Bali. Para peserta merupakan penyuluh perikanan dari Kabupaten Konawe, Konsel, Konut, dan Kota Kendari. Kegiatan ini merupakan SLI tahap II yang berupa pemaparan materi, praktek dan simulasi, serta pada hari terakhir dilakukan field trip ke Stasiun Meteorologi Maritim Kendari untuk lebih memperkenalkan layanan dan informasi BMKG. Terlaksananya SLI nelayan merupakan program Nawacita Presiden Joko Widodo khususnya bidang kemaritiman dimana BMKG berperan sebagai penyedia informasi kepada para nelayan agar bisa meningkatkan hasil tangkapan di masa yang akan datang. SLI nelayan merupakan tindak lanjut dari SLI pertanian yang telah dilakukan di banyak provinsi di Indonesia. Melalui SLI nelayan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai informasi cuaca dan iklim kepada para penyuluh perikanan sehingga mereka mampu memanfaatkan informasi tersebut untuk mendukung kegiatan para nelayan.

Foto Bersama di Acara Pembukaan


Peserta Melakukan Pre-Test

  
Pemaparan Materi



Diskusi


Peserta Bermain Game

Peserta Dibagi dalam Beberapa Kelompok

Field Trip ke Stasiun Meteorologi Maritim Kendari

Panitia

Minggu, 14 Februari 2016

Stop Mengkambinghitamkan Perubahan Iklim

Ilustrasi [sumber: id.zulkarnainazis.com]
Berbagai bencana hidrometeorologi yang menimpa manusia sering dikatakan sebagai dampak perubahan iklim. Adanya perubahan pada iklim seakan menjawab pertanyaan mengapa banjir lebih sering melanda, mengapa musim kemarau berkepanjangan ataupun mengapa cuaca ekstrim sering terjadi. Perubahan iklim dianggap sebagai pelaku karena tidak ada pihak yang ingin menerima limpahan kesalahan. Pada sebuah bencana alam yang terjadi harus ada pihak yang bertanggung jawab secara tidak langsung. Masyarakat sukanya menyalahkan pemerintah yang melakukan pembangunan tidak tepat. Pemerintah yang telah bekerja menyalahkan masyarakat yang umumnya tidak peduli pada lingkungan. Pada akhirnya siapa yang salah, siapa yang tahu?

Peningkatan frekuensi kejadian cuaca/iklim ekstrim merupakan bagian dari efek perubahan iklim. Hal ini telah dibuktikan oleh data-data pengamatan dalam kurun waktu yang panjang. Kuantitas dan intensitas kejadian hujan lebat terus meningkat dan menyebabkan banjir. Hujan lebat di Sumatera Barat cenderung mengalami peningkatan 1.5 hari setiap tahunnya. Artinya dalam 10 tahun ke depan, frekuensi kejadian hujan lebat dapat bertambah 15 hari. Bayangkan saja, dengan kondisi hujan lebat yang sering terjadi saat ini sudah menyebabkan banjir dimana-mana, apalagi ketika frekuensi kejadian hujan lebat meningkat.

Perubahan iklim diketahui sebagian besar akibat aktivitas manusia. Dari hasil survei jajak pendapat yang diberitakan cbsnews.com, hanya 64 % orang Inggris dan Australia yang setuju dengan pernyataan tersebut. Orang Amerika bahkan hanya 54 % yang setuju. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat dunia tidak meyakini bahwa aktivitas manusia saat ini sebagian besar menyebabkan terjadinya perubahan iklim walaupun dengan beberapa bukti yang telah dipaparkan.

Definisi perubahan iklim belum dipahami dengan benar oleh masyarakat. Pengetahuan umum mengetahui bahwa perubahan iklim berarti iklim telah berubah, tidak seperti kebiasaan umum. Namun perlu diketahui bahwa ada suatu fenomena yang juga terjadi di muka bumi ini yaitu variabilitas iklim. Sangat sulit untuk menentukan suatu kejadian ekstrim akibat dari adanya perubahan iklim karena kejadian ekstrim itu biasanya dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor. Artinya bahwa ketika perubahan iklim itu pun tidak terjadi, tidak menutup kemungkinan sebuah kejadian ekstrim tidak dapat terjadi.

Mengingat kejadian La Nina pada tahun 2010 yang mengakibatkan wilayah Indonesia secara umum mengalami musim hujan sepanjang tahun, hal ini belum dapat dipastikan sebagai akibat dari adanya perubahan iklim. Kondisi ini lebih dapat dijelaskan oleh adanya variabilitas iklim. Artinya iklim itu bervariasi, tidak konstan. Jika perubahan iklim menandakan iklim yang berubah dan tidak akan kembali lagi seperti dahulu kala maka variabilitas menandakan perubahan yang hanya sementara dan akan kembali ke keadaan semula.

Perubahan iklim niscaya akan mengakibatkan bencana yang sangat besar di masa depan jika kondisi suhu rata-rata muka bumi terus meningkat. Peningkatan suhu ini lebih kita kenal sebagai pemanasan global. Beberapa daerah telah menunjukkan adanya peningkatan suhu rata-rata tahunan. Misalnya saja Wamena Papua yang merupakan daerah pegunungan yang dingin dengan suhu rata-rata 25.97 0C mengalami peningkatan suhu sebesar 1.38 0C/10 tahun. Hal ini menandakan bahwa jika pemanasan terus terjadi maka dalam 40 tahun yang akan datang, panasnya Wamena akan sama seperti panasnya Jakarta saat ini.

Konsentrasi Karbon Dioksida (CO2) juga menunjukkan kecenderungan peningkatan. Menurut WMO Greenhouse Gas Bulletin, jumlah CO2 di atmosfer mencapai 393,1 ppm pada 2012, atau meningkat 141% dari konsentrasinya di masa pra-industri. Tingkat perubahan yang sangat dramatis ini diketahui akibat aktivitas manusia dan belum pernah terjadi selama ini. CO2 merupakan gas rumah kaca yang dapat tinggal di atmosfer hingga 80 - 120 tahun. Walaupun potensi pemanasan global CO2 tergolong lemah namun karena jumlahnya banyak maka tentu saja keberadaan gas ini secara berlebih dapat sangat mengancam kenyamanan bumi kita. 

Perubahan iklim telah tercatat benar terjadi. Perubahan iklim di masa lampau merupakan fenomena yang alami sedangkan kebanyakan perubahan pada 50 tahun terakhir ini lebih disebabkan oleh aktivitas manusia. Manusia mempercepat terjadinya perubahan iklim melalui aktivitas yang tidak bersahabat dengan alam semisal pengrusakan hutan. Manusia melakukan aksi maka alam akan bereaksi.

Menyadari hal tersebut maka perlu dilakukan upaya bersama dalam adaptasi dan mitigasi untuk menanggulangi dampak yang semakin besar. Kejadian dan bencana yang terjadi di sekitar kita dapat menjadi pengingat bagi kita bahwa bumi kita saat ini berada pada kondisi “sakit”. Berbagai bencana yang menimpa jangan hanya diterima sebagai dampak perubahan iklim tanpa adanya kesadaran mendalam tentang kesalahan manusia di dalamnya. Mari kita memaknai perubahan iklim sebagai “akibat” bukan “penyebab”. Jadi mulai sekarang, berhenti mengkambinghitamkan perubahan iklim. Mari melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk mengurangi dampaknya hari ini dan di masa yang akan datang. 

*ditulis sebagai syarat kelulusan diklat PMG Fungsional Ahli angkatan VI tahun 2015

Selasa, 19 Januari 2016

The Weather’s not Guilty

Hi. My name is Risnayah. My hobby is traveling. The day was cold when my friends and I started climbing the Mount Sumbing in Wonosobo, Central Java, Indonesia. This mountain is so bare and pretty hard to pass. When I arrived in post 3, I left my backpack in the bush and covered it with raincoat. I did this on purpose to lightened my load to the summit.

In the afternoon, the clouds began to grow large. The sky seemed to be shedding tears soon. I speed up my pace. We met other climbers who rushed down the mountain. “The summit is still far away. You have to immediately go down”, they said. We were confused. But we encouraged our selves to still reach the peak. It would be something different if we didn’t reach the top.

I was disappointed at the summit. I couldn’t enjoy the view of the Mount Sindoro (known as the wife of Sumbing), Merapi and Merbabu which can be seen from there. Everything was white, covered with clouds.

When we descend, heavy rain and strong wind came. It directly hit my small body. I remembered my raincoat that I left before. "Oh my God", I said. The wind was up to the skin. It was freezing. I was shivering. Visibility was only a few steps ahead. No place to hide. We kept going and had to immediately get to the climbing post before nightfall. Inconceivable on a dark night, cold, rainy, and stormy, I was still in the mountain. It must be a nightmare.

About 8 pm, we arrived at the base. Rain and strong wind didn’t subside as well. The post-climbing guard had been worried. He said that the storm was coming often uncertain lately. Fortunately, we all saved.

It must be admitted that he was right. It was our fault. Tropical climate spoiled us so we were less concerned on weather information. In fact, the weather becomes uncertain now. The wind and rain become stronger. This experience will be a valuable learning for me as an amateur mountaineer.


the sky seemed to be shedding tears sonn [foto by lioba]

*cerita ini merupakan kisah nyata dan ditulis dalam rangka mengikuti lomba penulisan cerpen bertema cuaca dalam kehidupan sehari-hari pada peringatan Hari Meteorologi Dunia 23 Maret 2014 di BMKG Pusat

Minggu, 06 Desember 2015

Perbedaan El Nino dan ENSO

El Nino merupakan suatu penyimpangan kondisi laut yang terjadi di Samudera Pasifik sekitar ekuator. Istilah El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang berarti anak laki-laki kristus karena biasanya datang di bulan Desember saat natal sedang berlangsung. El Nino membawa dampak yang sangat besar bagi kehidupan manusia baik di Indonesia maupun secara global. Dampak yang sangat nyata di Indonesia dapat kita saksikan bersama di tahun 2015 ini mulai dari dampak langsung berupa berkurangnya curah hujan maupun dampak tidak langsungnya berupa kekeringan, kebakaran, hingga berdampak pada kestabilan negara.

Untuk memahami El Nino kita perlu memahami kondisi normal saat El Nino (maupun La Nina) sedang tidak berlangsung. Dalam kondisi normal, keberadaan angin pasat tenggara yang bertiup dari arah yang tetap sepanjang tahun menyebabkan terjadinya arus permukaan yang membawa massa air permukaan ke wilayah Pasifik bagian barat (sekitar Indonesia). Karena adanya daratan Indonesia maupun Australia maka massa air tersebut tertahan dan lama kelamaan terkumpul. Mengingat massa air laut dekat permukaan bersifat hangat maka massa air yang terkumpul tersebut meningkatkan suhu muka laut di Pasifik barat. Pada tahap ini akan terbentuk suatu sirkulasi arus dimana arus permukaan menuju ke arah barat sedangkan arus di lautan dalam menuju ke arah timur. Pergerakan ini diakibatkan oleh massa air yang terkumpul di Pasifik barat akan bergerak turun (downwelling) sehingga arus di pasifik timur akan naik (upwelling). Arus yang naik ini membawa massa air dari lautan dalam yang tentu saja bersifat dingin. Hal inilah yang normal terjadi di Samudera Pasifik dimana suhu muka laut di Pasifik barat (sekitar Indonesia) lebih hangat dibandingkan di Pasifik timur sekitar Pantai Barat Peru (Gambar 1).

Kondisi suhu muka laut sangat erat kaitannya dengan pembentukan awan-awan hujan. Suhu muka laut yang hangat senantiasa beriringan dengan sistem tekanan rendah begitu pun sebaliknya. Adanya perbedaan tekanan udara antara sisi barat dan timur samudera Pasifik akan menimbulkan suatu sirkulasi yang dikenal dengan istilah sirkulasi Walker. Sirkulasi ini menunjukkan bahwa dalam kondisi normal wilayah pasifik barat akan menjadi pusat pembentukan awan-awan konvektif yang membawa hujan (Gambar 1).

Gambar 1. Kondisi normal (Source: W.S. Kessler, NOAA/PMEL dari laman www.seos-project.eu)

Pada kasus El Nino, hal sebaliknya terjadi. Angin pasat tenggara mengalami pelemahan yang bahkan berubah arah menajdi pasat barat daya. Akibatnya suhu muka laut yang lebih hangat akan berpindah ke wilayah samudera Pasifik bagian tengah hingga timur dan wilayah Pasifik barat menjadi lebih dingin. Pusat-pusat pembentukan awan konvektif pun lalu bergeser sehingga Indonesia yang biasa banyak hujan menjadi lebih sedikit. Sebaliknya, wilayah Peru dan sekitarnya yang dalam kondisi normal kondisinya dingin dan kering menjadi lebih hangat dan basah (banyak hujan).

Dampak El Nino di Indonesia sebenarnya tidak sama di setiap wilayah di Indonesia. Indonesia bagian tengah hingga timur lebih cenderung berdampak dibandingkan di Indonesia barat khususnya Sumatera. Dari analisis historis data curah hujan dapat diketahui wilayah mana saja yang berdampak terhadap kejadian El Nino (Gambar 2). 

Gambar 2. Peta korelasi El Nino dan Curah hujan Indonesia (Sriworo, 2008)

Analisis dampak El Nino di Indonesia menunjukkan adanya perbedaan berdasarkan pada periode kejadiannya. El Nino akan sangat berdampak membawa kekeringan saat terjadi di musim kemarau dibandingkan saat di musim hujan. Misalnya di Baubau pada El Nino 1997 tidak terjadi hujan sama sekali selama tiga bulan berturut-turut selama musim kemarau. Sementara itu pada saat musim hujan, sekuat apapun intensitas el nino, pengaruhnya akan kalah dengan kehadiran monsun Asia. Ketika monsun Asia aktif maka akan ada suplai uap air ke wilayah Indonesia. Potensi kejadian hujan akan meningkat walaupun intensitasnya masih lebih sedikit dari biasanya (masih dalam kategori musim kemarau menurut BMKG).

Ada dua cara yang dapat digunakan untuk memprediksi kejadian El Nino. Pertama melalui indeks Nino3.4 yang merupakan anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 atau Pasifik bagian tengah. Kedua melalui Southern Oscillation Index (SOI) yang merupakan perbedaan tekanan antara Tahiti dan Darwin. Berdasarkan intensitas kejadiannya, indeks El Nino ini dikategorikan dalam tiga kelas yaitu El Nino kuat, El Nino sedang, dan El Nino lemah. Semakin tinggi anomali suhu muka laut di Nino3.4 atau semakin rendah perbedaan tekanan antara Tahiti dan Darwin maka El Nino dalam kategori kuat. El Nino kuat tentu akan lebih berdampak dibandingkan El Nino sedang maupun lemah (Gambar 3).

Gambar 3. Contoh Prakiraan Indeks Nino3.4 (kiri) dan SOI (kanan) [source : bmkg.go.id]

El Nino biasa juga disebut sebagai ENSO padahal dua peristiwa ini adalah peristiwa yang berbeda. ENSO atau El Nino Southern Oscillation terdiri dari dua fenomena yakni fenomena El Nino dan Southern Oscillation. El Nino sendiri berarti komponen lautannya sedangkan Southern Oscillation berarti komponen atmosfernya. Oleh karenanya, El Nino menggunakan indeks Nino3.4 yang unsur utamanya suhu muka laut sedangkan ENSO menggunakan SOI yang unsur utamanya adalah tekanan udara. Jadi, ketika kita berbicara El Nino, kita hanya membahas seputar lautannya. Namun ketika kita berbicara ENSO maka kita berbicara masalah lautan dan atmosfer. 

Sebagai penutup, ada film bagus nih tentang El Nino disini :)

Rabu, 11 November 2015

Pengertian Arus Laut

Perbedaan penerimaan panas matahari di muka bumi menyebabkan timbulnya ketidakseimbangan di dalam lautan. Wilayah tropis yang menerima lebih banyak radiasi memilki suhu muka laut yang lebih hangat dibandingkan dengan wilayah di lintang menengah dan tinggi. Variasi dari suhu ditambah dengan tekanan dan kandungan garam dalam air mengontrol besaran densitas. Akibat dari perbedaan sebaran densitas antar lautan maka muncul suatu pergerakan massa air baik secara vertikal maupun horizontal sehingga laut menuju keseimbangan. Gerakan ini dikenal dengan istilah arus laut.

Sama halnya seperti angin, arus merupakan suatu komponen vektor yang memiliki besaran arah dan kecepatan. Pergerakan arus laut dipengaruhi oleh banyak faktor yang beberapa di antaranya akibat dari tiupan angin, perbedaan tekanan air, perbedaan suhu, perbedaan densitas, gaya coriolis, gravitasi, pasang surut, topografi dasar laut, gaya gesekan, dan pengaruh gelombang pecah. Perbedaan mesin pembangkit arus ini mengakibatkan arus terkategori dalam beberapa jenis di antaranya:
(i)    Arus ekman : Arus yang dipengaruhi oleh angin yang efeknya secara vertikal
(ii)   Arus termohaline : Arus yang dipengaruhi oleh densitas dan gravitasi
(iii)  Arus pasut : Arus yang dipengaruhi oleh pasang surut
(iv)  Arus geostropik : Arus yang dipengaruhi oleh perbedaan tekanan mendatar dan gaya coriolis
(v)   Arus akibat angin : Arus yang dipengaruhi oleh pola pergerakan angin dan terjadi pada lapisan permukaan

Arah dan kecepatan angin tidak hanya membangkitkan gelombang seperti yang biasa tampak di permukaan laut. Tiupan angin juga menyebabkan bergeraknya massa air laut secara horizontal di beberapa ratus meter dari lapisan permukaan yang biasa disebut arus permukaan. Arah dan kecepatan arus ini sangat tergantung pada arah dan kecepatan angin namun arah arus tidak searah dengan kemana arah angin bertiup. Arus akan dibelokkan pada umumnya sebesar 90 derajat dari arah datangnya angin. Pembelokkan ini akibat dari bumi yang berputar sehingga menimbulkan sebuh gaya yang disebut dengan gaya coriolis. Di belahan bumi utara, arus dibelokkan ke kanan sedangkan di belahan bumi selatan ke kiri.

Gambar 1. Arus Dibelokkan ke Kanan di BBU (a) dan Dibelokkan ke Kiri di BBS (b) [source : en.wikipedia.org]

Sekitar 10% dari air laut dunia bergerak secara horizontal di lapisan permukaan (0-400 m). Selebihnya (90%), air laut bergerak di lapisan dalam. Arus dalam ini tidak dipengaruhi oleh pola sebaran angin melainkan oleh perbedaan densitas. Arus jenis ini membawa massa air dalam jumlah besar dari daerah ekuator ke daerah kutub dan begitupun sebaliknya hingga membentuk suatu sirkulasi yang tetap. Arus ini dikenal dengan sebutan Arus Termohalin atau dengan nama lain Arus Perputaran Sabuk Dunia.

Gambar 2. Sirkulasi Arus Termohalin [source: www.ces.fau.edu]

Arus termohalin seperti yang ditunjukkan oleh gambar 2 di atas melewati wilayah Indonesia dan disebut sebagai ARLINDO singkatan dari Arus Lintas Indonesia. Arus ini bersifat hangat yang mengalir dari Samudera Pasifik utara Papua masuk melalui Selat Makasar dan menuju Selat Lombok dan Selai Ombai dekat Pulau Timor. Selain itu juga mengalir lewat Selat Lifamatola antara Maluku Utara dan Sulawesi Tengah lalu menuju Laut Banda dan kemudian mengalir melewati Selat Ombai.

Gerakan massa air tidak hanya terjadi secara horizontal namun ada juga yang vertikal. Gerakan massa air dari lapisan bawah ke lapisan di atasnya disebut upwelling sedangkan dari lapisan atas ke lapisan bawah disebut downwelling. Arah tiupan angin secara tidak langsung dapat mempengaruhi arus ini. Misalnya saja ketika arus permukaan bergerak menjauhi pantai maka volume air di daerah sekitar bibir pantai akan berkurang sehingga untuk menyeimbangkannya, massa air dari bawahnya akan naik dan fenomena upwelling pun terjadi. Daerah upwelling ini akan kaya dengan nutrien-nutrien termasuk plankton-plankton yang dibawa naik oleh arus dari lapisan bawah lautan ke lapisan permukaan di atasnya. Oleh karenanya, upwelling selalu identik dengan ikan yang banyak.

Sementara itu fenomena downwelling berdampak berbeda dengan upwelling. Pada wilayah arus turun tidak terdapat banyak ikan di lapisan permukaan karena nutrient di bawah turun ke lapisan dalam. Arus turun ini terjadi ketika ada penumpukan massa air di suatu wilayah dan massa air ini tidak dapat lagi bergerak horizontal maka ia akan bergerak turun. Selain itu, gerakan turun massa air juga dapat diakibatkan karena adanya garis pantai yang menghalangi pergerakan arus di permukaan.

Sabtu, 12 September 2015

Analisis Kesesuaian Iklim Tanaman Jagung dengan Proyeksi Iklim menggunakan Skenario RCP4.5 di Sulawesi Selatan

Kesesuaian Iklim memang sudah menjadi salah satu produk rutin BMKG. Saya pada penelitian ini mencoba menganalisis kesesuain iklim tanaman jagung di masa yang akan datang terkait dengan adanya perubahan iklim. Ini adalah abstrak skripsi saya saat mengikuti Diploma IV Jurusan Klimatologi di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jakarta. Dari judulnya sepertinya pertanian banget yaa.. Hehe.. Yang mau nanya-nanya, silakan surel saja.


Sabtu, 15 Agustus 2015

Sulawesi Tenggara Waspada El Nino

[sumber : www.el-nino.com]
Pada tahun 2015 ini dunia kembali dilanda El Nino. El Nino ini teramati terus menguat sejak April 2015 dan diprediksi akan menjadi El Nino kategori kuat pada akhir tahun. Beberapa daerah di Indonesia mulai terkena dampaknya. BMKG pada bulan Juli lalu menyatakan bahwa Jawa, Sulawesi Selatan, Lampung, Bali, NTB, dan NTT telah mengalami hari tanpa hujan berturut-turut yang sangat panjang. Wilayah-wilayah tersebut sudah mengalami kekeringan sejak Mei 2015. Kekeringan ini diprediksi masih akan berlangsung dimana awal musim hujan 2016 di beberapa daerah tersebut akan mengalami kemunduran dampak dari kemunculan El Nino. Menyikapi hal ini maka timbul pertanyaan di benak kita, “bagaimana dengan wilayah Sulawesi Tenggara?”

Dari pantauan BMKG unit Sulawesi Tenggara di kota Kendari, Bau-bau, Pomalaa, dan Ranomeeto, tercatat masih adanya hujan yang turun hingga bulan Juli kemarin. Kondisi hari tanpa hujan sempat terjadi selama kurang lebih dua minggu pada awal bulan Juli. Memasuki pertengahan hingga akhir Juli, hujan tercatat beberapa kali terjadi dengan intensitas rendah. Hujan yang turun ini mungkin tampak seperti angin segar bagi kita bahwa fenomena El Nino tidak berdampak di Sulawesi Tenggara. Lalu apakah hal tersebut benar?

Dari kajian analisis sebaran dampak , wilayah Indonesia bagian timur sangat rentan terkena dampak El Nino. Tentu saja itu termasuk wilayah Sulawesi Tenggara. Ditambah lagi dengan posisi Sulawesi Tenggara yang berbatasan langsung dengan Laut Banda. Kajian para pakar membuktihkan bahwa Laut Banda yang luas dan dekat dengan Samudera Pasifik memiliki suhu muka laut yang lebih rendah saat kejadian El Nino dibandingkan saat kondisi normal.

El Nino merupakan suatu penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di Samudera Pasifik sekitar ekuator khususnya di bagian tengah dan timur (sekitar Pantai Barat Peru). Dikatakan sebagai penyimpangan karena kondisi El Nino ini berlawanan dengan kondisi normal. Seharusnya permukaan laut yang hangat adalah di bagian barat (wilayah perairan Indonesia) dan yang dingin adalah di wilayah tengah dan timur Samudera Pasifik. Namun El Nino membalikkan keadaan. Akibat penyimpangan laut ini maka terjadi penyimpangan pada sistem atmosfer. Pusat pembentukan awan bergeser ke wilayah timur Pasifik. Jika pada kondisi normal hujan seharusnya turun di wilayah Pasifik barat akan tetapi El Nino memindahkannya ke Pasifik timur (Amerika Tengah dan Selatan).

Laut merupakan mesin penyuplai uap air terbesar. Laut yang hangat akan melepaskan lebih banyak uap air di udara. Uap air ini sangat bermanfaat untuk pembentukan awan-awan hujan. Pada kondisi El Nino, suhu muka laut di perairan Indonesia khususnya Indonesia bagian timur cenderung lebih dingin. Akibatnya, tingkat penguapan di laut Indonesia berkurang. Namun hal sebaliknya terjadi di wilayah tengah dan timur Pasifik (sekitar Pantai Barat Peru). Suhu muka laut disana lebih hangat sehingga pembentukan awan lebih banyak. Oleh sebab itu dikatakan bahwa El Nino membawa dampak yang berbeda di sisi barat dan sisi timur Samudera Pasifik. Di sisi barat mencakup Indonesia, Australia, hingga India, El Nino berdampak pada meningkatnya resiko kekeringan namun bagi sisi timur mencakup Amerika Tengah dan Selatan, El Nino pada umumnya meningkatkan resiko banjir.

Untuk mengantisipasi dampak El Nino di Sulawesi Tenggara, kita perlu mempelajari sejarah kejadian dan dampaknya terhadap cuaca dan iklim di masa lalu. El Nino tercatat telah terjadi sebanyak delapan kasus dalam 20 tahun terakhir dimana El Nino kategori kuat baru terjadi satu kali yakni pada tahun 1997-1998. Dengan memperhatikan data historis curah hujan Sulawesi Tenggara pada tahun-tahun El Nino dapat diketahui bahwa beberapa kasus El Nino berdampak pada pengurangan curah hujan dan beberapa tidak berdampak. Perbedaan dampak El Nino ini dipengaruhi oleh intensitas, durasi kejadian, dan kapan terjadinya.  Pada kasus El Nino kuat, curah hujan diketahui mengalami defisit yang sangat signifikan. Sementara itu pada kasus El Nino lemah-sedang, secara umum berdampak defisit curah hujan namun tidak dipungkiri beberapa kejadian malah menunjukkan peningkatan curah hujan. Peningkatan ini ternyata terjadi selama musim penghujan. Hal ini menunjukkan bahwa efek El Nino akan lebih merusak saat datang di musim kemarau sedangkan saat dating di musim penghujan efeknya melemah.

Saat ini wilayah Sulawesi Tenggara secara umum telah memasuki musim kemarau. Kota Kendari yang normalnya masuk musim kemarau di bulan Juli dasarian II (tanggal 11 – 20), pada tahun ini maju atau lebih cepat satu dasarian yakni menjadi Juli dasarian I (tanggal 1 – 10). Curah hujan bulan Juli di kota Kendari mengalami defisit 76 % dari rata-ratanya. Pengurangan yang lebih parah terjadi di Pomalaa sebesar 83 % dan di Bau-bau defisit 93 % dari rata-ratanya selama 29 tahun. Dari informasi ini kita dapat mengetahui bahwa El Nino telah berdampak signifikan di beberapa tempat di Sulawesi Tenggara.

El Nino adalah suatu fenomena yang tidak memilki pola yang tetap pada setiap kemunculannya dan juga tidak muncul secara tiba-tiba. El Nino baru dapat diprediksi kehadirannya dalam beberapa bulan ke depan saja. Dengan mengamati suhu muka laut di sekitar wilayah Tahiti dan Darwin Australia, kita dapat mengetahui bahwa El Nino sedang dan akan terjadi. BMKG dan institusi dunia lainnya memprediksikan El Nino 2015 akan berkembang menjadi El Nino kuat mulai bulan Agustus. International Research Institute (IRI) Amerika Serikat berani memastikan peluang kejadian El Nino mencapai 100 %. Berdasarkan intensitasnya maka El Nino level kuat ini perlu diwaspadai. Besarnya intensitas El Nino yang datang di musim kemarau sebanding dengan kerusakan yang dapat ditimbulkannya.

Prediksi dampak yang mungkin terjadi pada El Nino kali ini dapat kita pelajari dari dampak yang terjadi pada tahun 1997/1998. Kejadiannya hampir serupa dengan kasus kali ini dimana El Nino berada pada level kuat yang puncaknya mulai aktif pada bulan Agustus dan terus berkembang hingga Februari. Pada waktu itu, curah hujan di wilayah Sulawesi Tenggara secara umum tercatat mengalami pengurangan yang signifikan hingga 100 % atau tidak ada hujan sama sekali dalam satu bulan. Kondisi kering ini terjadi sepanjang musim kemarau. Di Bau-bau, defisit curah hujan sudah terjadi sejak musim hujan bulan Mei 1997 yang saat itu kondisi El Nino masih dalam level lemah. Defisit ini terus berlangsung hingga puncaknya pada bulan Agustus-September-Oktober tidak tercatat hujan sama sekali selama 3 bulan penuh. Kemudian saat memasuki musim hujan bulan Desember-Januari-Februari saat El Nino masih berada pada puncaknya El Nino kuat, pengaruhnya tidak begitu besar. Hujan tercatat masih terjadi walaupun akumulasi bulanannya di bawah normal namun intensitasnya cukup besar.

Dampak serupa ditunjukkan di wilayah lain di Sulawesi Tenggara seperti Kabupaten Raha, Buton, Konawe, dan Bombana. Banyak wilayah yang mengalami kondisi kering selama tiga bulan berturut-turut pada puncak musim kemaraunya di bulan Agustus hingga Oktober. Ketika memasuki musim penghujan, beberapa wilayah menunjukkan adanya hujan yang tercatat walaupun nilainya berada di bawah normal. Bahkan beberapa ada yang menunjukkan tidak berdampak sama sekali. Konawe Selatan misalnya, pada bulan Januari 1998 saat El Nino masih dalam intensitas kuat, curah hujan yang terukur diketahui berada dalam kondisi di atas normal.

Belajar dari masa lalu maka kita sebagai masyarakat Sulawesi Tenggara perlu mewaspadai kemungkinan kerusakan pada El Nino 1997/1998 terjadi lagi pada El Nino tahun ini. Kita harus mewaspadai kekeringan yang mungkin dapat terjadi selama musim kemarau ini terutama di bulan Agustus, September, dan Oktober. Kondisi kering dalam waktu yang panjang dapat membawa kerugian di banyak sektor kehidupan mulai dari tingkat satuan rumah tangga hingga kestabilan ekonomi suatu negara.

Untuk mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh El Nino maka kita perlu melakukan upaya-upaya penanggulangan mulai dari sekarang. Pemerintah harus lebih siap dan tanggap pada kemungkinan bencana lanjutan akibat kemunculan El Nino. Pemerintah juga dapat memaksimalkan beberapa sektor yang berdampak positif pada kemunculan El Nino salah satunya sektor perikanan dengan meningkatnya potensi ikan di wilayah perairan kita. Di tingkat masyarakat, kita dapat melakukan penghematan penggunaan air. Kita dapat membuat daerah resapan air dengan harapan ketika hujan turun sesekali maka kita dapat memanfaatkannya dengan lebih maksimal. Untuk menjaga kesehatan, kita harus mengonsumsi air lebih banyak dari biasanya karena kondisi kering yang dibawa oleh El Nino menyebabkan tingkat dehidrasi meningkat. 

*Tulisan ini telah dimuat di koran Kendari Pos pada kolom Opini tanggal 11 Agustus 2015 dan masih dapat diakses di situs kendari pos disini.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...